Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Selatan Berjalan Positif di 2019

Smart Palembang – Perekonomian Sumatera Selatan tumbuh tinggi di tahun 2018 sebesar 6,04% (yoy) dan tercatat tertinggi selama lima tahun terakhir. Kinerja perekonomian Sumatera Selatan tersebut berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat pada level 5,17% (yoy). Selain itu, pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan juga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Regional Sumatera sebesar 4,52% (yoy) ini yang disampaikan oleh Yunita Resmi Sari selaku Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan dalam keterangan pers saat bersama rekan – rekan media di Equator Resto Palembang Square , Senin (  04/03/2019 ).

Dibandingkan dengan provinsi lainnya di Regional Sumatera, pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan tahun 2018 juga tercatat tertinggi. Sementara itu pada triwulan IV-2018, perekonomian Sumatera Selatan mencatatkan perlambatan pertumbuhan sebesar 6,07% (yoy) atau lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi triwulan III-2018 yang tercatat sebesar 6,14% (yoy).

Realisasi ini sesuai dengan prediksi Bank Indonesia bahwa pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan akan mencapai puncaknya di triwulan III-2018 yang didorong oleh peningkatan konsumsi dan investasi akibat Asian Games XVIII dan membaiknya harga batubara global. Walaupun mengalami perlambatan di triwulan IV 2018, realisasi pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan di triwulan ini merupakan yang tertinggi di Regional Sumatera, serta lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,18% (yoy). Melambatnya capaian pertumbuhan ekonomi di triwulan laporan terutama disebabkan oleh menurunnya kinerja ekspor luar negeri dan investasi. Di sisi lain, masih tingginya konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, serta konsumsi lembaga non-profit rumah tangga menahan penurunan pertumbuhan ekonomi di triwulan ini. Pada triwulan I 2019, perekonomian Sumatera Selatan diperkirakan mengalami perlambatan.

Namun demikian, perlambatan di triwulan I merupakan fenomena yang wajar dan merupakan bagian dari siklus pertumbuhan ekonomi yang terjadi karena proyek pemerintah yang masih dalam tahap perencanaan, proses awal pelelangan, serta belum masuknya dana transfer ke daerah mengakibatkan masih rendahnya reasilsasi anggaran belanja.

Pertumbuhan ekonomi global yang tumbuh melambat terutama dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi negara maju, turut berdampak pada turunnya permintaan ekspor Sumatera Selatan.

Harga komoditas di Februari 2019 yaitu minyak kelapa sawit serta minyak bumi masih mengalami kontraksi masing-masing sebesar -19,48% (yoy) dan – 16,63% (yoy), di sisi lain harga karet sedikit meningkat sebesar 0,19% (yoy) namun masih berada pada level yang rendah yaitu USD 1,9/kg. Harga komoditas yang masih rendah dan berada pada tren menurun ini diperkirakan akan berdampak pada pelemahan pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan. Di sisi lain, harga batubara masih berada di level yang cukup tinggi yaitu sebesar USD 80,97/metrik ton, walaupun sedikit mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Masih baiknya kinerja komoditas batubara diharapkan menopang positifnya pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan. Perlambatan ini dikonfirmasi oleh pertumbuhan jumlah dana pihak ketiga perbankan di Januari 2019 yang melambat sebesar 9,69%

Perlambatan ini dikonfirmasi oleh pertumbuhan jumlah dana pihak ketiga perbankan di Januari 2019 yang melambat sebesar 9,69% (yoy), turun dibandingkan Desember 2018 yang sebesar 11,09% (yoy). Hal yang sama juga terjadi pada penyaluran kredit yaitu melambat menjadi sebesar 12,63% (yoy) dari sebelumnya 13,38% (yoy) di Desember 2018.

Sejalan dengan penurunan kondisi perekonomian global dan melambatnya kinerja perekonomian Sumatera Selatan di triwulan ini, terdapat penurunan kualitas kredit Provinsi Sumatera Selatan di bulan Januari 2019 yang ditunjukkan dengan nilai NPL sebesar 4,24% atau meningkat dari sebelumnya 3,79%. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di tahun 2019 masih relatif tinggi yaitu pada kisaran 5,8-6,0% terutama didorong oleh harga komoditas karet dan CPO yang membaik dibandingkan tahun 2018, investasi dari korporasi di sektor energi dan pertanian, serta peningkatan konsumsi masyarakat. Selain Karet , batubara, CPO , Yunita menambahkan Pulp and Paper merupakan salah satu penyumbang komoditas ekspor.

Dalam wawacara bersama awak media , Yunita Resmi Sari mengatakan ,perkembangan perekonomian di Sumatera Selatan cukup baik dilihat dari sisi perbankan dengan memberikan sisi yang baik dari sistem kredit perbankan. Pola perbankan di Sumatera Selatan dari sistem perbankan sangat tinggi, permintaan banyak digunakan sistem produksi. Secara global terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi pada kwartal pertama di 2019 terutama di bulan Januari , malah dalam istilah internasional terdapat istilah Black January dan ini adalah gejala yang wajar dalam perekonomian.

Ditanya perihal kegiatan non tunai, Yunita mengatakan tercatat kegiatan perekonomian di Sumatera Selatan masih out flow yang artinya masyarakat Sumatera Selatan masih suka menggunakan transaksi tunai. Hal ini yang menurut Yunita harus digarap agar penerimaan dari daerah lebih maksimal, ini yang tengah sosialisasikan oleh Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sumatera Selatan di Sumatera Selatan salah satunya kepada PD Pasar Palembang. Transaksi non tunai pun dapat mengurangi beredarnya uang palsu,lebih efektif dan efisien dalam hal waktu,transparan dan tercatat dengan baik serta bisa digunakan untuk kegiatan transaksi yang lainnya. Dalam sosialisasi ini selain PD Pasar, Bank Indonesia pun akan bersosialisasi ke pemerintahan setempat ,misalnya ke Pemda . Selanjutnya BI akan memetahkan transaksi mana saja yang potensial untuk masuk dalam transaksi non tunai.



Leave a Reply